Tantowi, Ani (2025) Makna dan Hukum Perintah Memukul Istri dalam Surat Al-Nisā’: 34 Menggunakan Metodologi Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Undergraduate thesis, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Pendahuluan_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Download (1MB)
Bab 1_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Download (531kB)
Bab 2_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Download (872kB)
Bab 3_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Download (271kB)
Bab 4_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (697kB) | Request a copy
Bab 5_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (275kB) | Request a copy
Daftar Pustaka_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Download (326kB)
Lampiran_Ani Tantowi_20201551025.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (563kB) | Request a copy
Abstract
Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), terutama terhadap istri, mengalami peningkatan pada tahun 2024 dan mencerminkan adanya ketimpangan relasi dalam keluarga. Padahal, Islam menekankan pentingnya prinsip keadilan, kasih sayang, dan kerja sama dalam membangun kehidupan rumah tangga. Namun, pemahaman literal terhadap Surah al-Nisā’ ayat 34, khususnya frasa waḍribūhunna, sering kali dijadikan legitimasi terhadap kekerasan terhadap istri, diperparah oleh budaya patriarki dan salah penafsiran terhadap teks-teks keagamaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran para ulama terhadap kata ḍarb dalam ayat tersebut dan menganalisis makna dan hukumnnya berdasarkan pendekatan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan. Data dikumpulkan dari kitab-kitab tafsir, literatur fikih, usul fikih, serta dokumen resmi Muhammadiyah, dan dianalisis secara deskriptif-analitis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya dua arus pemikiran utama dalam menafsirkan frasa waḍribūhunna: mayoritas mufassir membolehkan pemukulan dengan batasan tertentu, sementara sebagian mufassir lain seperti ‘Aṭā’ memilih pendekatan non-kekerasan. Melalui metodologi Manhaj Tarjih yang menekankan integrasi dalil, ditemukan bahwa meskipun teks perintah tersebut di dalam ayat bersifat mubāḥ namun memilih ḍarb sebagai jalan terakhir untuk meyelesaikan permasalahan nusyūz istri merupakan jalan yang bersifat karāhah (dibenci), sehingga meninggalkannya lebih baik dan utama. Dan melakukannya menyelisihi keteladanan terhadap Nabi Muhammad. Dengan demikian, pendekatan tanpa pemukulan dinilai lebih sejalan dengan nilai-nilai Islam yang berorientasi pada rahmah dan perlindungan terhadap martabat manusia.
Kata Kunci: waḍribūhunna, Surah al-Nisā’, kekerasan dalam rumah tangga.
===============================================================================
ABSTRACT
Cases of domestic violence (DV), especially against wives, increased in 2024, indicating an imbalance in family relationships. This situation exists even though Islam emphasizes the importance of justice, compassion, and cooperation in building a harmonious household. Unfortunately, a literal interpretation of Surah al-Nisā’ verse 34—particularly the phrase waḍribūhunna—is often used to justify violence against wives. This misuse is further reinforced by patriarchal culture and misinterpretation of religious texts.
This study aims to explore how scholars interpret the word ḍarb in that verse and analyze its meaning using the Manhaj Tarjih Muhammadiyah approach. It employs a qualitative method through library research. Data were collected from tafsir books, Islamic jurisprudence (fiqh) and legal theory (uṣūl al-fiqh) sources, as well as official Muhammadiyah documents. The data were then analyzed descriptively and analytically through stages of data reduction, presentation, and conclusion.
The study found two main approaches in interpreting the phrase waḍribūhunna: most scholars permit hitting under strict conditions, while others, such as ‘Aṭā’, promote a non-violent solution. Using the Manhaj Tarjih methodology—which emphasizes the integration of religious evidences—it is found that although the imperative text in the verse is considered mubāḥ (permissible), choosing ḍarb as a last resort to resolve the issue of a wife’s nusyūz is regarded as karāhah (disliked). Therefore, refraining from it is better and more preferable, as practicing it goes against the example of the Prophet Muhammad. Thus, a non-violent approach is more aligned with Islamic values that prioritize mercy (raḥmah) and the protection of human dignity.
Keywords: waḍribūhunna, Surah al-Nisā’, domestic violence.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | waḍribūhunna, Surah al-Nisā’, kekerasan dalam rumah tangga, |
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc K Law > K Law (General) |
| Divisions: | 01. Fakultas Studi Islam dan Peradaban > Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | ANI TANTOWI |
| Date Deposited: | 10 Jul 2026 03:53 |
| Last Modified: | 10 Jul 2026 03:53 |
| URI: | https://repository.um-surabaya.ac.id/id/eprint/12790 |
