Negosiasi Identitas Kepala Rumah Tangga dalam Tradisi Ganjuran Brondong Lamongan

Ummah, Elza Syifaul (2026) Negosiasi Identitas Kepala Rumah Tangga dalam Tradisi Ganjuran Brondong Lamongan. Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan, 20 (6). ISSN P-ISSN: 1907-4174, E- ISSN: 2621- 0681

[thumbnail of Artikel Ilmiah_Elza Syifaul Ummah_20221551018.pdf] Text
Artikel Ilmiah_Elza Syifaul Ummah_20221551018.pdf

Download (2MB)

Abstract

Salah satu aspek khas tradisi ganjuran di wilayah Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, adalah bahwa para wanita yang memulai proses lamaran kepada pria. Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah untuk menyelidiki secara mendalam sistem negosiasi dalam masyarakat pesisir dalam pengelolaan rumah tangga dan penetapan kepala rumah tangga setelah pernikahan. Metode interaktif diterapkan untuk menganalisis data utama yang diperoleh dengan melakukan wawancara kepada pemimpin agama setempat, pasangan yang mengikuti tradisi ini, serta tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses negosiasi pra-lamaran dan reinterpretasi teologis berjalan sukses dan dengan harmonis menyatukan warisan ganjuran. Berdasarkan teori negosiasi peran, pria mengambil posisi yang “pasif” dalam proses lamaran, tetapi hal ini diimbangi dengan pergeseran peran yang positif. Dalam konteks rumah tangga, istri memegang beban utama dalam mengurus keluarga serta menciptakan kesejahteraan sesuai dengan norma-norma Maqashid al-Syariah. Namun, menurut regulasi administrasi negara (Dukcapil) dan Pasal 31 ayat (3) UU Perkawinan, otoritas formal suami sebagai kepala keluarga tetap bersifat mutlak.

==============================================================================================

A distinctive feature of the Ganjuran tradition in Brondong, Lamongan is that women initiate the marriage proposal process with men. This qualitative study aims to investigate in depth the negotiation systems within this coastal community regarding household management and the determination of the head of household following marriage. An interactive method was employed to analyze primary data obtained through interviews with local religious leaders, couples participating in this tradition, and customary figures. The findings indicated that the pre-proposal negotiation process and the associated theological reinterpretation were successful, harmoniously integrating the Ganjuran heritage. Based on role negotiation theory, men adopt a “passive” stance during the proposal process, yet this is balanced by a positive shift in roles. Within the household context, the wife bears the primary responsibility for managing the family and fostering well-being in accordance with Maqashid al-Sharia (the objectives of Islamic law) norms. However, under state administrative regulations (Civil Registry/Dukcapil) and Chapter 31, Point (3) of the Marriage Law, the husband's formal authority as the head of the household remains absolute.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Tradisi Ganjuran, Negosiasi Peran, Manajerial, Kepala Rumah Tangga, Maqashid Syariah.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
H Social Sciences > HM Sociology
H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman
K Law > K Law (General)
Divisions: 01. Fakultas Studi Islam dan Peradaban > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: ELZA SYIFAUL UMMAH
Date Deposited: 28 Sep 2026 02:36
Last Modified: 28 Sep 2026 02:36
URI: https://repository.um-surabaya.ac.id/id/eprint/14382

Actions (login required)

View Item
View Item